Ini Belum Separuhnya, Biasa Saja, Kamu Tak Apa

Sungguh malang nian nasib angkatan kelulusan 2020 ini yang kebanyakan adalah Gen-Z, kata sebagian orang. Merekalah angkatan yang setelah hampir setahun bersiap-siap, akhirnya lulus sekolah tanpa harus mengikuti UN, yang sebenarnya baru direncanakan dihapus di 2021. Bagi yang kuliah, konsultasi akhir dan ujian skripsinya dilakukan jarak jauh, sarjana online katanya. Bukan hanya itu, wisuda dan selebrasinya yang sudah dibayang-bayangkan, direncanakan, disiapkan, akhirnya gagal total akibat pandemi.  Merekalah angkatan tanpa upacara pelepasan lulusan/wisudawan.  Tapi itu bukan akhir dari ‘penderitaan’ mereka. 

1,8 juta lebih lulusan SMA & SMK yang tidak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi atau diploma, akan bergabung dengan 1,3 juta sarjana dan pemegang diploma baru yang lulus tahun ini, bersaing memperebutkan lapangan kerja.  Padahal akibat dari pandemi ini sampai 20 April 2020 Kemenaker mencatat sudah ada hampir 85,000 perusahaan yang merumahkan atau bahkan sampai mem-PHK karyawannya. Tercatat sudah lebih 1,5 juta pekerja yang terkena PHK. Kadin sendiri menyatakan skenario terburuk bila pandemi ini berlanjut 15 juta pekerja dapat terkena PHK. Jadi, sah kan kalau kita katakan bahwa Gen Z angkatan kelulusan 2020 ini adalah angkatan yang paling menderita?

Tapi tunggu dulu, sekarang coba bayangkan Anda seorang generasi milenial yang lahir di Indonesia tahun 1980. Saat kelas 3 SMA usia 18 tahun terjadi krisis moneter yang berdampak pada dunia usaha yang kemudian berubah jadi krisis sosial dan politik berujung kerusuhan etnis dan reformasi.  Tahun itu pertumbuhan ekonomi tercatat minus 13 persen. Dampak krisisnya terasa hingga lebih dari lima tahun. Jadi bisa dibayangkan dampak krisis itu bagi si milenial dan keluarganya. 

Nah, di tahun 2008, saat para milenial ini tengah menikmati karirnya (sebagian dari mereka mungkin sudah menjadi manajer lini pertama) atau bisnisnya, kembali mereka dihantam krisis ekonomi global yang berawal dari Amerika Serikat.  Dampaknya memang tidak separah krisis 1998 karena (paradoksnya) rasio ekspor kita yang kecil terhadap PDB (hanya 29%) namun tetap saja mengguncang perekonomian kita. Saat itu diperkirakan ada sekitar 200,000 tenaga kerja yang di-PHK. Belum lagi 1,2 juta TKI kita di Malaysia yang terancam dipulangkan karena lapangan pekerjaan akan difokuskan bagi tenaga kerja lokal.

Lalu sekarang, saat milenial yang lahir di tahun 1980-an ini sedang meniti menuju puncak karir dan bisnisnya, saat mereka masih harus membiayai anak-anaknya yang masih menempuh studi di sekolah menengah, kita dihantam krisis akibat pandemi covid 19. Pertumbuhan ekonomi melambat, kuartal pertama 2020 ini diperkirakan hanya tumbuh 2.9%, jadi bisa dibayangkan kontraksi yang terjadi terhadap perekonomian kita, sebagian dari milenial itu harus terkena PHK, bisnisnya terancam gulung tiker.  Jadi, lebih menderita mana, milenial atau gen Z?

Sadness is not a competition. Kata-kata itu selalu muncul di slide yang jadi latar konser Hindia. Saya setuju. Daripada  membandingkan ‘penderitaan’ angkatan ini dengan angkatan sebelumnya, menurut saya lebih baik kita ikuti apa kata Hindia juga: evaluasi.  Apa saja yang harus dievaluasi?

Sudahkah kita cukup punya ‘curiosity’ atau melatih kecurigaan kita? Curiga pada tren yang bersliweran di depan mata kita, sinyal-sinyal lemah (weak signals) dari perubahan-perubahan besar yang akan terjadi di masa yang akan datang. Curiga pada perubahan 1° yang bila dibiarkan akan membuat ‘kapal’ ini menyimpang makin jauh dari tujuan semula?

Sudahkah kita memiliki kemampuan atau berlatih berpikir kritis memilah-milah mana tren yang akan berpengaruh positif, mana yang akan berpengaruh negatif terhadap diri kita dan keluarga, profesi dan bisnis kita?

Sudahkah kita cukup visioner dan kreatif untuk bereksperimentasi dengan menciptaan skenario-skenario kemungkinan yang akan terjadi di masa depan yang tidak terlalu lama ini? Mencoba  menyibak kabut ketidakpastian dengan mengubah pola berpikir kita, dari ‘apa yang bisa dikerjakan’ menjadi ‘apa yang harus dilakukan’. Termasuk di dalamnya belajar hal-hal yang baru yang mungkin akan dibutuhkan di situasi normal berikutnya (next normal).  Bagi para pemimpin dan pemilik bisnis berlaku juga hal yang sama, ini saatnya memilih siapakah anggota timnya yang layak berada di sana saat normal berikutnya datang, atau mungkin mereka harus merekrut tenaga-tenaga baru dengan ketrampilan baru yang saat ini belum dimiliki perusahaan.

Jadi baik bagi para milenial ataupun Gen-Z, krisis ini “belum separuhnya, biasa saja, kita tak apa”. Ayo … “bilas muka, gosok gigi, evaluasi!”

*terima kasih Hindia untuk liriknya yang inspiratif

– FM Siddharta

 

Ref: Business vector created by pch.vector at freepik.com