Old Normal, New Normal dan Next Normal

Hari-hari ini kita semakin terbiasa mendengar istilah ‘new normal’. Kita harus siap hidup dengan ‘new normal’ setelah pandemi ini berakhir, katanya. Istilah ‘new normal’ mulai digunakan pertama kali sebagai tanggapan atas krisis finansial tahun 2007-2008 dan akibat dari resesi global 2008 – 2012. Terminologi ini kemudian dipakai untuk bebagai konteks yang berbeda, yang intinya menggambarkan sesuatu yang sebelumnya dianggap abnormal kemudian menjadi hal yang biasa.

Saya sendiri berpendapat saat ini kita sudah meninggalkan ‘old normal’ (kebiasaan kita terdahulu sebelum pandemi ini terjadi) dan sedang berada dalam kondisi ‘new normal’ di tengah pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di berbagai wilayah.  ‘Work-from-home’ (WFH), misalnya, yang bukan cuma 1 atau  2 hari dalam seminggu yang dulu dikenal sebagai ‘flexible workplace’, ‘telecommuting’, ‘mobile/remote working’, sekarang berlangsung sebulan penuh, dan bahkan kita sudah menjalankannya secara massal bersamaan di seluruh dunia selama lebih dari 3 bulan. Aplikasi yang digunakan untuk menjalankan rapat dalam WFH itu juga digunakan untuk banyak hal lain, sekolah, kuliah, seminar dan training online, reuni atau pertemuan keluarga online bahkan pengadilan online. “Nge-zoom’ yuk!” sudah menjadi sama lumrahnya dengan “nge-mall’ yuk”.

Hal yang sama juga terjadi dengan school-from-home (SFH) dan semua yang kini (dipaksa) berlangsung secara online, termasuk di dalamnya adalah belanja online, yang kini tidak hanya terbatas pada barang/jasa yang ‘dulu’ dianggap norma untuk dibeli secara online (barang elektronik, mainan, fesyen dan tiket pesawat). Kini keluarga-keluarga Indonesia sudah terbiasa berbelanja produk-produk segar (ikan, daging, telur, sayur, buah) secara online.

Jadi, bila nanti PSBB atau karantina wilayah ini dihentikan, pertanyaannya seperti apa kondisi normal yang baru nanti? Rasanya kita semua sepakat, apapun itu, kondisinya akan berbeda dengan keadaan normal yang pernah kita alami sebelumnya. Kondisi normal yang belum kita alami inilah yang saya sebut sebagai ‘next normal’.

Jika saat ini kita ‘survive’ dalam kondisi ‘new normal’, kini saatnya bagi para pemimpin untuk memikirkan apa yang diperlukan, apa yang harus disiapkan agar kita menang di situasi dan kondisi berikutnya (next normal). Pemerintah Kanada mengatakan bahwa saat ini kita tidak sedang melaksanakan WFH tetapi ‘kita sedang (harus) di rumah, di tengah kondisi darurat/krisis, mencoba untuk terus bekerja’. Artinya protokol dan tata tertib WFH saat PSBB atau karantina wilayah dilonggarkan tentu akan berbeda dengan kondisi saat orang benar-benar dipaksa/diharuskan tinggal di rumah. Ini kita baru bicara mengenai rapat/meeting. Bagaimana dengan tanggung jawab seorang pemimpin lainnya yang mungkin tertunda selama periode darurat/krisis, misalnya memberi & menerima ‘feedback’, melakukan coaching, memberikan penghargaan (recognition), mempengaruhi (influence) pemimpin yang lain untuk memberika dukungan atas rencana dan usulannya. Hal-hal yang kini harus dilakukan secara rutin dalam kondisi memimpin dengan muka datar (istilah yang diusulkan Eko Nugroho untuk proses memimpin menggunakan aplikasi tatap muka jarak jauh).

Ian Davies (McKinsey, 2009) saat krisis tahun finansial 2008 mengatakan bahwa dalam kondisi  darurat ada dua tipe pemimpin. Pemimpin tipe pertama hanya sibuk memikirkan bagaimana untuk ‘survive’ dalam jangka pendek. Pemimpin tipe kedua juga berusaha melihat di balik kabut ketidakpastian masa yang akan datang setelah masa darurat berakhir dan coba mencari tahu bagaimana organisasinya dapat memenangkan persaingan di kondisi normal berikutnya (next normal). Tidak ada yang tahu kapan krisis akan berakhir dan seperti apa kondisi normal berikutnya, tapi yang pasti akan sangat berbeda dengan kondisi normal terdahulu (old normal) dan normal yang baru (new normal).  Anda sendiri tipe pemimpin yang mana?

– FM Siddharta

 

Ref: Business vector created by stories at freepik.com