Produktivitas Tinggi di Normal Baru

Sepertinya perdebatan tentang haruskah Indonesia memasuki fase normal baru (new normal) atau tidak mesti segera disudahi. Cepat atau lambat kita akan di(ter)paksa memasukinya. Meski antara wilayah yang satu dengan yang lainnya mungkin akan berbeda, tergantung terpenuhi atau tidaknya syarat-syarat untuk memasuki fase normal baru tersebut.  

Bagaimana tidak, sampai April 2020 ini sesuai data Kemenaker sudah ada 85,000 perusahaan yang merumahkan atau bahkan mem-PHK karyawannya, ada 1.7 juta pekerja yang sudah di-PHK. Para pengusaha bahkan sudah berhitung mereka hanya akan bertahan hingga bulan Agustus untuk terus beroperasi, sesudah itu mereka akan dengan sangat terpaksa harus melakukan PHK besar-besaran dan diperkirakan 15 juta pekerja akan terdampak.

Di sisi lain, bulan Juli 2020 ini diperkirakan 1,8 juta lulusan SMA & SMK yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau program diploma akan memasuki lapangan kerja. Sementara itu sampai akhir tahun 2020 ada 1.3 juta sarjana dan lulusan program diploma yang juga akan memasuki lapangan kerja.  Pertumbuhan ekonomi di kuartal I melambat hingga hanya tumbuh 2,9% dan tahun 2020 ini diperkirakan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 1%. 

Lalu bagaimana dengan perusahaan yang saat ini masih beroperasi? Bagaimana di fase normal baru terus dapat menjaga atau bahkan meningkatkan produktivitasnya? 

Krisis yang terjadi saat ini, seperti halnya krisis SARS di tahun 2002-2003, tergolong  krisis yang meluas secara perlahan sehingga dapat membuat para pemimpin terkena bias kenormalan (normalcy bias). Seolah-olah situasinya masih baik-baik saja padahal sudah mengarah pada krisis yang makin parah. 

Menurut McKinsey (2020) ada 5 perilaku yang dapat membantu para pemimpin dalam perusahaan untuk menavigasi timnya keluar dari situasi krisis sambil tetap menjaga produktivitas yang tinggi:

  1. Mengorganisir tim untuk merespon krisis dengan membangun jaringan berbagai tim dalam organisasi
  2. Memberdayakan para pemimpin dalam organisasi dan mengingatkan pentingnya berpikir jernih & sikap optimis yang realistis
  3. Mengambil keputusan di tengah ketidakpastian dengan jeda sejenak untuk menilai situasi & antisipasi, lalu bertindak.
  4. Menunjukkan empati dengan menempatkan penanganan tragedi kemanusiaan sebagai prioritas utama
  5. Berkomunikasi secara efektif dengan menjaga keterbukaan informasi & memberikan update secara berkala.

Pandemi virus corona ini benar-benar menguji para pemimpin perusahaan dan organisasi di segala sector diseluruh dunia.  Dampaknya akan dirasakan untuk jangka waktu yang lama dan menghadirkan kesulitan yang lebih besar daripada yang diantisipasi banyak orang. Ketidakpastian yang akan terus berlanjut ini makin menjadi alasan bagi para pemimpin untuk mempraktekkan apa yang digambarkan dalam artikel ini.  Mereka yang mempraktekkannya akan membantu dalam  menciptakan atau memperkuat perilaku dan nilai-nilai yang akan mendukung perusahaan/organisasi atau komunitas mereka selama krisis, seberapa lamapun krisis itu berlangsung, sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi tantangan berikutnya yang lebih besar. 

FM Siddharta

 

Ref:

  • Design vector created by pikisuperstar at freepik.com
  • Leadership in a crisis: Responding to the coronavirus outbreak and future challenges (McKinsey, 2020)