Tantangan Bonus Demografi

Median umur populasi Indonesia ternyata memuda menjadi 29.3 tahun di tahun 2019 dibandingkan 30.2 tahun di tahun 2018. Artinya populasi angkatan kerja berusia muda masih terus bertambah di Indonesia. Apa yang sedang terjadi di Indonesia? Median umur populasi banyak negara maju (termasuk Cina, Korea & Jepang) terus menua, sementara yang terjadi di Indonesia justru tren sebaliknya. Lalu sampai kapan tren memudanya median umur populasi Indonesia ini akan berlangsung?

Indonesia saat ini sedang mendapatkan yang disebut ‘bonus demografi’ yaitu situasi dimana komposisi jumlah penduduk yang berusia produktif lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk usia tidak produktif (bayi, anak-anak dan lanjut usia). Penduduk usia produktif adalah penduduk yang berada pada rentang usia 15-64 tahun.

Situasi yang dialami ini mirip seperti yang dialami oleh Jepang di tahun 1950, hal ini pula yang mendorong cepatnya kebangkitan Jepang tidak lama setelah Perang Dunia II berakhir. Setiap bangsa akan mengalami periode bonus demografi sekali dalam hidupnya. Jepang saat ini sudah mengalami situasi piramida terbalik akibat menuanya populasi yang bahkan mengarah ke bentuk pipa akibat jumlah penduduk yang meninggal jauh lebih banyak dibandingkan yang lahir.

Bonus demografi ini ditunjukkan oleh rasio dependensi (dependency ratio) yang menunjukkan besarnya penduduk golongan umur produktif yang dapat menghasilkan barang dan jasa ekonomi bagi golongan umur muda (0-15 tahun) dan umur tua diatas 64 tahun (golongan umur tidak produktif). Bonus demografi ini diperkirakan akan mencapai puncaknya di antara tahun 2030 – 2035 yaitu di saat rasio dependensi mencapai titik terendah.

Hal ini berarti lingkungan kerja akan semakin banyak berisi mereka-mereka yang datang dari generasi milenial (gen Y, yang lahir antara tahun 1980 – 2000) yang saat ini mencapai 34% dari total populasi, sementara itu generasi Z (yang lahir antara tahun 2000 – 2020) mulai memasuki dunia kerja. Bayangkan saat ini seorang pemimpin yang saat ini harus menghadapi situasi penuh DVUCA (disruption, vulnerability, complexity, ambiguity) harus mengelola tim yang berisi tiga generasi X, Y dan Z, yang masing-masing mempunyai cara dan sudut pandang berbeda serta pola pikir dan pengalaman yang berbeda pula. Satu-satunya cara bagi seorang pemimpin masa kini untuk dapat selamat dan menang di era DVUCA ini adalah dengan memiliki kemampuan untuk ‘unlearn’ dan ‘relearn’ setiap saat yang membutuhkan ‘adaptivity’ dan ‘agility’ serta kompetensi membangun kolaborasi di antara tiga generasi X, Y, Z.

Asah kemampuan leadership Anda agar relevan dengan kebutuhan industri saat ini dengan mengikuti workshop LDRS.XYZ. Daftarkan diri Anda melalui website www.ldrs.xyz atau hubungi Augi – +62812-8562-611 untuk informasi lebih lanjut.